CERPEN : CINTA di ATAS RIVALITAS REAL MADRID -BARCELONA


 IDOL or LOVE

Qwenti namaku, nama yang sangat asing untuk telingga orang Indonesia, entah lah yang ku tau cukup keren dan nama kaka ku Qwenta , kami hanya dua bersaudara, ayah ialah seorang pembaca berita di salah satu stasiun televisi swasta, dan ibu adalah seorang ibu rumah tangga yang punya bakat dalam bidang design sehingga banyak pula menerima pesanan sampai sekarang ibu sudah memiliki 3 cabang butik. Dengan nama Q&Q yang tak lain nama ku dan kaka ku.
Aku dan wenta memiliki selisih umur 4 tahun,sangat banyak perbedaan antara kami berdua.
Wenta lebih bersifat manis alias feminim, sedangkan aku ya sedikit nakal laah, tomboy punya. Ayah sudah tau sifat dasar kami berdua yang membuat kami jarang terlihat jalan bersama, ibu tak pernah absen setiap hari mengontrol kami, terutama aku.
Wenta sekarang berkuliah disalah satu Universitas ternama di daerahku dan sedang berada di semester akhir. Sedang aku tepat berada di semester akhir masa SMA. Masih tak terbersit dipikiranku aku mau terjun kearah mana. Entah kenapa wenta lebih senang tampil didepan umum, ia suka sekali ikut ajang modeling, olah vokal dan lainnya. Sedang aku, malah tertarik suatu keterampilan yang lain yaitu bulutangkis, ayah dan ibu tidak pernah mempermasalahkan hobbyku itu asalkan ku bisa membagi waktu.
Sudah terlalu panjang aku bercerita pada mu .. baiklah
“Went..” sapa seseorang yang taklain teman sekelasku bernama rio
“napa io? “
“kamu mau gak nemenin  aku keperkumpulan bola gitu”
“kapan?”
“nanti malam.. bisa?”
“siap pa bro, aku langsung ke TKP aja yah pasalnya aku harus Bimbel dulu sorenya”
“okey,, tempatnya aku kabarin keHp mu aja ya..”
“siapp, duluan io...”


Aku harus keGOR dulu buat latihan, ke tempat ibu, lalu ke Bimbel dan akhirnya jalan ama Rio ke perkumpulan yang entahlah.
“Baiklah aku menyelesaikan  dua misi ku, dan menyisakan Bimbel dan Rio.”
Dan ku dapati notification dari line
Rio
Went, kamu udah selesai Bimbel ? J

Belum, baru mau . Tunggu mas bro

Tidak lama rio membalas lagi
Siap,,,kabari kalau udah ya

Langsung ku masukan Hp ku kedalam ransel ku, aku berjalan dengan santai di tengah-tengah kesibukan ibu-ibu yang nampak asik berkumpul di butik ibu.
“Went,, habis bimbel kamu langsung kerumah atau kemana?” suara dri mereka yang tak lain ibu ku
“aku, mau jalan bentar bu..” jawabku
“jangan kemaleman nanti ayah marah lo!” Ibu mengingatkan
“iya bu, dah ibu , tante semua!” lambai ku

Hari ini aku Bimbel dengan malasnya, aku bahkan hanya menggambar tak jelas di buku ku.entah kenapa , sepertinya aku tak konsentrasi,
“wenti ??Tolong kamu maju dan jawab pertanyaan yang ad di hal 34 “perintah tentor mengagetkan ku
Dengan sigap ku membuka buku halaman itu, lalu ku jawab semua pertanyaan yang ada, lalu duduk
Tentor terlihat kaget, namun aku sudah yakin dengan apa yang ku kerjakan, tentor yang tau aku hanya duduk dan menggambar tak jelas karena sekarang Notebook ku sudah beralih tangan.
Biar lah, entah beliau tertarik dengan isi buku itu . Tentor ku tergolong muda karena dia merupakan salah satu mahasiswa tinggat akhir di salah satu universitas besar di daerahku dengan Ipk yg mengesankan, aku bukanya tak tertarik dengannya seperti halnya semua anak gadis di kelas ini yang selalu membicarakan ketampanannya ketika bimbel sudah berakhir . hanya saja aku tak suka dengan kata “Guru Pacaran ama Siswanya “ helloooo...

Dan akhirnya bimbel berakhir, ku bersiap menuju parkiran dan yang kutemui di depan parkiran motor itu malah tentor, bukankah di naik mobil kesini bahkan yang tersisa hanya 2 motor . satu punyaku dan yang satunya milik anak kelas sebelah yang cukup sering ku liat. Ku dekati Jhoni nama tentor ku dan hanya diam
“ni, buku mu” menyodorkan buku
“makasih, ku pikir kau akan membuangnya “
“tidak, hanya saja saya tidak suka ada siswa yang dengan santainya duduk di belakang kelas hanya menggambar tak jelas sedangkan kewajiban saya disini adalah membimbing siswa itu belajar “
“sorry” jawabkau sekenanya
“tak masalah, nampaknya kau sangat gelisah sehingga tak konsentrasi hari ini”
“mungkin,, “ namun Hp ku berbunyi dan Rio sudah nelpon
“Hallo,,”
“iya ,, gue udah kelar sekarang otw, posisi lo dimana io?”
“sipp ,,tunggu bentar”
Aku menutup telpon , nampaknya si jhoni tak kunjung beranjak hingga aku yang harus undur diri lebih dahulu
“Maaf pa aku duluan “
“iya silakan” diselinggi senyum
Di parkiran mobil jelas aku liat anak-anak satu kelas dengan ku dibimbel yang etrkenal sangaaat gaya itu memperhatikan ku tapi entahla, memang mereka siapa. Dan aku sudah berbuat salah apa kemereka.
Setelas melewati pos penjagaan ku sengaja langsung tancap gas , dari pada memperhatikan wajah-wajah plastik mereka mending cabut temenan ama Rio.
Setelah sampai di tempat janjian ku dan Rio aku langsung menekan ponsel untuk menelponnya,Rio datang sambil berlari kecil
“ ngapain masih di motor, taruh tu di tempat parkir aku tunggu depan pintu masuk okeey!!”
aku hanya menuruti apa katanya ..
“wiih,,ada acara apa nih pake jersey segala?”
“Nonbar laga seru ni kata orang El-clasico “
“halah,, dasar lo yee, etss, tapi sebelum gw msuk . jam berapa gw diizinin pulang ??”
“ya, amplop baru mau masuk udah tanya pulang, nanti lo betah juga kok disini makananya enak-enak..”
“bayarin tapi..”
“okey buat lo apasih yang gak” dengan coolnya
“mantebb “
Didalam nampaknya sangat heboh pertandingan baru kan berlangsung di jam 11 malam tapi kedua kubu fans udah sama-sama saling perang yel-yel
Namun ku yang malam itu menemani Rio hanya bisa duduk karena terlalu lelah, aku suka Tim yang akan berlaga. Dan aku memang satu kesukaan sama Rio di Liga ini. Entah karena cewknya Rio gak suka Bola sehingga setiap ada kesempatan baik Rio ada Liga, Kejuaraan ato lain sebgainya selalu di berharap aku yang akan datang bukan pacarnya. Namun itu gak masalah buat ku, Rio bagaikan Kakak ku sendiri dia bisa me handle semua aktivitas wajib ku seperti Tugas dan lainya sehingga dia berani jamin aku tidak akan dimarahi oleh Ayah dan Ibu . apalagi keluargaku malah terlanjur percaya sama Rio bahkan kalau akau berkata akan jalan-jalan yang jaraknya cukup jauh dari rumah pertanyaan pertama dari bibir mereka
“perginya sama rio kan wenti??”
Entah punya sihir apa tu anak yang pasti Ayah dan Ibu terlanjur mempercayakan anaknya yangs atu ini dibawah pengawasan Rio, kusisihkan jauh-jauh pikiran ku dan kelelahanku hari itu mencoba menikmati setiap teriakan dari fans dan sesekali juga ikut berbaur dengan teriakan salah satu kubu.
Namun aku yang memang dikenal meniliki feeling yang kuat merasa da yang memperhatikan ku sdari tadi. Bukan karena aku ke Geeran , Cowok itu berbadan Tinggi berisi, rambut Cepak dengan jersey salah satu tim musuh bebuyutan ku. Aku yang malam itu tidak mengenakan jersey hanya diam dengan tatapan itu , sampai saat Rio menjauh dari sisiku untuk bergabung dengan teman-temannya nampaknya sedang menyusun strategi buat perang kata-kata entah laa.
Dia mendekat , lalu dengan sopan bertanya
“bisakah aku duduk disini?”
“ini tempat umum , kau bebas mengunakanya?”
“makasih..” jawabnya memperlihatkan senyuman termanisnya kurasa
Tanpa menjawab dan ku hanya tersenyum sebagi tanda setuju . Rio nampaknya msih lama disna dan aku akan terlihat kaku dengan orang baru yang tak ku kenal ini.
“Bisa kenalan  aku  Denis, kamu?”
“aku Qwenti,, “nampaknya di sangat kaget dengan namaku.
“ooh,, Q-W-E-N-T-I “lapalnya mengeja namaku
“terdengar asing??”
“haha,, sepertinya cukup jarang nama seperti itu”
“hee..”  mungkin hanya itu yang bisa ku ucapkan setelahnya ku hanya menikmati coklat panas yang ada
“kamu suka bola atau hanya ikut dengan pacar mu itu?”
“hahaha,, aku memang sangat suka olahraga tak terkecuali sepak bola ,dan maaf Rio bukan pacar ku”
“ooh,, HTSan doang ya,, ato program PDKT?” ujarnya sedikit Kepo tapi menurut ku itu sudah cukup banyak keponya
“dia sahabatku sejak SMP”dan itu jela sbahkan sangat jelas untuknya
“Gak pake jersey lu suka Real Madrid atau Barcelona?”
“aku    Madritista. “tegasku
“oohh,, taruhan mau???”
“boleh,,apa?”
“Bakso aja deh.”
“sapa takut ,, “ tantang ku yang memang sedikit kurang bersahabat dengan tim tetangga
Nampaknya dia dipanggil oleh teman temannya . Namun di tergolong cerdas dia meminta nomer ponsel ku sebelum pergi.
Aku akan beranjak pulang dan Rio berjalan mengikutiku dari belakang , ini memang sudah jam 10 dan aku tidak bilang akan pulang malam,, bukan berarti aku tak tertarik untuk duduk menantikan sosok idolaku di tempat ini . namun nampaknya  aku amsih tau bahwa jam sudah menunjukan bahwa aku harus pulang, karen atanpa seijin orang tua aku tak terbiasa pulang larut malam , walu Rio menjanjikan akan mengatarku sampai depan Kamar .
Sesampainya dirumah aku langsung duduk depan ruang keluarga , dan ayah muncul bersama satu gelas kopinya serta ibu yang membawa satu nampan toples-toples cantik berisi  camilan. Ka wenta yang tadinya hanya melihat dari atas langsung turun ke bawah untuk bergabung walau aku tau dia pasti akan ngomel ketika chanel yang ku pilih adalah sepak bola.
“wenti,, pindah napa ?”
“ku nungguin bola nona wenta!!” jawabku sambil asik mengambil makanan
“astaga,, kalian ini udah pada gede masih suka berebut, TV dikamar kurang gede ato kurang banyak..”tegur ibu
“udah bu, biarin aja mereka . heii wenta gimana proposal skripsi mu ?”
“besok mau aku bawa ke pembimbing kedua yah..”
“bagus, semoga acc aja “
“amiin,,”
“wenti, kamu sekolahnya gimana?”
“ya , gitu-gitu aja yah”
“lirik-lirik cowok ada gak?”
“ayahh,, !plis deh jangan ngomongin gitu dulu mending dengerin ulasan komentator dulu”
Ya memang aku dikenal gak terlalu peka dengan cowok, jadi sering digodain entah sama teman bahkan sama keluargaku. Beda dengan ka wenta yang selalu dan selalu berganti ganti pasangan , entahlah
Pertandingan bola pun di mulai aku memperhatikan dengan seksama pertandingan ditemani ayah sedang ibu di dapur dan wenta memilih utuk nonton TV di kamarnya.
Akhir skor yang kurang memuaskan bagi kedua tim karena seri..
Aku memutuskan naik ke kamarku diatas dan mendapati hp ku berbunyi, sebuah pesan singkat
“yah, imbang!! Gimana taruhanya  gak jadi atau di pending?”
Dari sms nomer baru itu aku dapat mengenali persis orang yang mengirim walau tanpa nama
“ya udah kan impas “
Dan tak lama masuk lagi sms
“gak mau, besok kita ketemuan di tempat tadi okey”
“halah , buat apa coba gak penting . Aku sibuk besok .Maaf”
“pokoknya aku tunguu sampai kamu dateng, met malam”
Sambil manyun ku meletakan hp dan tak lama berbunyi lagi
“Selamat malam Madridista girl, mimpi indah”
Aku yang membaca jadi keheranan sendiri pasalnya orang itu lucu .

Keesokan harinya aku amsih sibuk dengan seabrek aktivitas mulai sekolah , bimbel dan lainya namun ku mendapati pesan dihp ku bahwa kau ditungu nanti malm di tempat sama ketika acara nonton bareng berlangsung. Entahlah, yang jelas aku kan ke bimbel dan gak peduli sama yang namanya orang baru itu
Dibimbel seperti biasa aku duduk dipojok belakang posisi favorit, dan kali ini tak ada sesuatu yang mengagetkan karena berjalan seperti mana mestinya, ketika ku mau keluar ruangan
 “went,??”
“ya,, “ tolehku kearah datangnya suara
“kamu adikya qwenta ya?”
“iya, kenapa pa??”
“ohh, aku teman satu kelasnya.”
“oh,, “ jawabku tak mau tau
“ wenta yang bialang adikya ikut bimbel disini”
“he,,”
“kalau boleh kita duduk sebentar dikantin?”
“ngapain?”
“minum atau makan dulu, aku yang bayar ,,”
“o-oh, okey “ jawabku ragu
Panjang lebar dia bercerita ternyata jhoni menyukai Qwenta sejak semester pertama tapi jhoni tau kalau wenta suka gonta ganti pacar , dan maksud jhoni menceritakan ini setidaknya ketika jhoni sudah berani menyatakan cinta ada wenti yang mau membantunya, namun sebenarnya aku kurang suka dengan begini, tapi jujur jhoni menarik dan jhoni pintar itu lebih dari cukup untuk emjadi seorang calon kaka iparku.
Dan ku mendapati sebuah pesan singkat lagi,
“jangan lupa aku tunggu jam 7 malam” 
Terdengar seperti mengancam, huuh...
Aku melirik arlojiku dan sepertinya baru jam setengah 6 entah kenapa aku berpikir untuk tetap menemui orang itu meski akau memang sangat bertolak belakang dengannya.
Jhoni tersenyum adan berkata,,
“anak muda,,, kasmaran itu biasa wenti”
Dan ku memilih diam dari pada menanggapi itu.
Kami memutuskan untuk pulang ketika melihat penjaga kantin nampak beres-beres.
Aku tidak pulang kerumah walau aku tau ibu sudah tak ada di butik aku akan mampir untuk istirahat dan mandi sebentar lalu pergi lagi ke cafe itu.
Aku datang ketempat itu dan melihat kesekitar cafe dan kudapti teman baru itu,,
“hi, went”
“sori”
“gak apa.. duduk went , makan apa?”
“ya maksih , tapi ku udah makan. Ada apa kamu minta aku kesini??” ketusku
“astaga sewotnyaa,, “
Kami mulai malam itu dengan perdebatan antara tim fav.nya dan tim fav. Ku tentu saja. Dia sering kali mencibir idolaku CR7 dan aku hanya berkata ya pada setiap ejekanya, biar dia senang. Tapi ku males ngejek individu dari tim,  karena bagiku tim dan indivudu itu terlalu kekanak kanakan , padahal jelas aku masih SMA dan dia sudah kuliah , haha
Kami tak hanya terhubung di Hp semua jejaring sosial pun udah berteman , dari sekedar tuker argumen di Twitter sampe ngejek lewat emotion di Line udah . tapi bagiku itu mengasikan bukan malah bikin suntuk , walau aku kurang respek denga timnya karena selalu menjadi rival tim fav ku namun kenyataanya aku tetap menikmati bergaul dengannya.
Dan hal yang mengejutkan terbaru adalah, jhoni udah jadian sama ka wenta itu karena ketika Ibu dan teman-temannya ngumpul , tahukah kamu ternyata Jhoni adalah anak tante lisda teman Ibu . pantas saja tak lama setelah ketahuan erpacaran mereka sudah diikatkan . bahkan menikah merupakan rencana terdekat yang sudah di atur oleh ayah dan Papanya ka Jhoni. Eeets aku menyebutnya kaka karena ini bukan di Bimbel dan dia akan jadi kaka iparku.
Dan cerita lain, saat aku dan Denis berjanji untuk ketemu di salah satu tempat tanpa ku sadari bahwa ka wenta dan ka jhoni ada disana. Nampaknya mereka mengamatiku cukup lama sampai akhirnya memutuskan untuk mendekatiku dan denis.
“Wenti, Den?” sapa ka wenta kaget melihat cowok yang bersamaku denis
“ka,, ngapain?” jawabku
“hi, went?” sapa denis
“kalian udah kenal ,, “tanya ku
“tentu dia kan menang lomba model cover cewek dan saat itu aku couplenya “
“oalah,,, “
“kamu tahu wenti adik ku,”
“tahu, “jawabnya
Mendengar jawaban itu nampaknya ka wenta menyembunyikan sesuatu, aku belum bisa menebak sampai ka wenta dan ka jhoni meninggalkanku kembali dengan denis. Ada apa ini???
Aku masih belum bisa mengerti
Sesampainya dirumah aku masuk dalam kamar namun aku melirik kekamarnya ka wenta untuk mencari tahu kenapa dia kaget saat ku kenal dengan denis, pintu kamarnya tidak tertutup sempurna , tak ada ka wenta di sana namun aku menemukan tumpukan gambar-gambar dan tulisan yang intinya denis adalah cinta terpendam kaka ku qwenta.
Ka qwenta menyukai denis sejak pertama kali mendaftar pada kontes itu, dan kaka sering mengambil foto secara diam-diam  bahkan ia menyimpan tulisan-tulisan tangan denis sat itu mulai dari tanda hadir bahkan klipingan tabloid tentang denis.
Ya , mereka memang bertemu di saat keduanya masih berumur 15 tahun awal masuk SMA . yang mengherankan kaka ganti-ganti pacar karena dia tidak bisa nyaman dan selalu mencari sosok denis di setiap cowok yg ia pacari.
Samar-samar aku mendengar suara ka qwenta di balkon kamarnya sedang menelpon.
“aku tak yakin kau serius dengan adik ku?”
----
“Kau janji tidak akan menyakitinya, “
---
“aku tahu dia sosok yang kuat, tapi plis jangan kecewakan adikku”
---
“Aku akan menikah minggu ini ,, aku harap kau datang dan kalau kau serius dengan wenti katakan”
---
Aku berjalan mempercepat langkah untuk keluar dari kamarnya  ka wenta, setelah semuanya betapa kagetnya aku. Aku bingung denga keadaan yang ku hadapi ..

Aku bahkan bersikap dingin pada denis yang pada dasarnya tidak salah, iya tidak pernah salah pada wenta dan padaku . hanya saja ini terlalu mengagetkan untuku

Dan di acara pernikahan itu ka wenta nampak berseri bahagia begitu pula ka jhoni, sekarang jhoni bukan lagi guru bimbelku tapi sekarang di adalah anggota baru dikeluargaku
Aku tau denis akan datang , tapi aku tak tau ekspresi apa yang akan dia bawa.
“hi, wenti”
“hello”sapaku kaget
“cantikkan gini,, “
“maksudnya ku gak cantik kemaren heehh? Sana deh jauh-jauh”
“bukan gitu, kamu cantik disetiap waktu, tapi kan pake make up gini  aku baru liat”
“iya dah,, udah makan? ”
“udah,, tapi keplaminan sana belum, temenin”
“halah, bocah tua”
“haha”
Dan kami mengambil gambar berempat , setelahnya aku malah diam karena sekarang denis menguasaiku dia menarikku keluar gedung .
Dan diluar dugaan
“wenti, sebenarnya ku sudah suka sama kamu dari pertama di cafe itu, kamu berbeda dengan cewek-cewek yang nonbar dengan pakaian seksi mereka”
Aku hanya diam
“maukah kau jadi pacarku? I LOVE U QWENTI”
“heeeh??! Barcelona –Real madrid kan gak pernah bisa akur”
“memang kamu pikir kedua tim itu bisa membuat batas yang namanya cinta”
“tapi,,,” jawabku ragu
“okey, pokoknya aku mau jawabanya”
“entahlah sebenarnya ku tidak suka ,dengan tim kesayangan mu, tapi tim itu terasa biasa saja ketika aku sadar aku sayang sama kamu”
“jadi????????????”
Aku hanya menghadiahinya senyum, sebagai tanda ku setuju.

cinta itu sesuatu yang suci tak ada yang mampu membatasi ruang geraknya, 
entah hari ini, esok atau lusa
cinta akan datang, di hati siapa saja..
tak ada kata tidak mungkin ketika cinta yang bicara
pandangan mata tak mampu dusta. itulah kekuatan Cinta
Rivalitas dan Cinta bisa sejalan
Eyaa,,, ^^ chingu ku semua ini hanya cerita, aku minta maaf kalau-kalau menyinggung salah satu Tim dari yang ku masukan dalam cerita, ini murni buah pikir otak ku, fiktif belaka , kalaupun kejadianya sama seperti yang kamu-kamu alami berati akux yang bisa baca pikiran kalian #nah lo tetep gak mau ngaku salah #
Hee gak dehh, maaf yang sedalam dalamnya . makasih untuk orang-orang yang menjadi inspirasiku , lain waktu aku ketik lagi dah cerita lebih spesifik dari Fans entah sebagai ELF ato Madridista. Maaf juga banyak Typo pasalnya gak pake editing
Intinya ini hanya opini di tengah fiktif ^^ #apaan coba

#Hala Madrid










Komentar

  1. HI Hala madrid. Thx udh meninggalkan jejak dipostingan g karuan ini. Suatu kehormatan buat ku.Sorry setaun baru kebuka blog. Haha

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer