CERPEN- JATUH CINTA DIAM DIAM

KETIKA EGO LEBIH MENGUASAI HATI

Ari, kamu jadi kerumah?
Jadi dong? Sediaiin makanan yang banyaak nyak nyak..
Terus aku harus bilang mau gitu??
Wajib.. udah ah. Aku mau siap-siap onty!
Sipi , mas bro

Yah ini kisah kami persahabatan yang indah, kisah ku dengan nya dan dengan mereka. Kami berada disekolah yang sama dan kelas yang sama. Kali ini aku tidak hanya menunggu dia- Ari namun banyak pula yang lain.
“Nadia?” teriak seseorang diluar rumah ku, dan ku berlari menuju arah suara
“Hi, yang lain belum pada dating ian, masuk deh”
“Ngaret terus, ari ku BM gak bales pula” rengeknya yang tersandar di sofa .
“Udah aku telpon paling lagi di jalan..”
“asal jangan baru mau mandi aja..Ozi ikut kan?”
“Hobbynya ari kan gitu, Ozi udah otw dari tadi ian”
Ya,seperti biasa bahkan sangat bisa jika seorang Ari yang terlambat dia seakan tidak punya rasa malu telat datang dia malah menyalahkan yang lain yang bikin janji di jam dia istirahat, entahlah. Hampir setiap waktu disekolah aku akan terlibat perbincangan  panjang lebar dengan meraka.Dan akan melihat tatapan penuh keanehan dari mereka, ya mereka kaum hawa yang seolah berkata NADIA JANGAN DEKET-DEKET PANGERAN KU. 
Aku ya terus aku yang akan mendapat banyak teguran dan tatapan sinis.Dan seberapa banyak pun yang melakukannya aku tidak pernah merasa ada yang salah karena nyatanya aku tak pernah lebih dari dekat untuk ukuran laki-laki dan perempuan yang berteman.
“Nadia?” Ari yang datang dengan tampang memelas
“Kenapa lagi ri?”
“Wih, ketus amat …PR Fisika mana ?”
“Buku PR siapa ri? Punya ku?”
“Hehe .. siapa lagi ia. Boleh dong 5 soal aja”
“Soalnya memang ada 5 doang kali”
“Iya bagi?”
“Tanya Ozi dia udah ngerjain tadi malem”
“Ga yakin sama si Ozi nih ia. Wets tau dimana nih Ozi udah ngerjain??”
“Kamu gak ngerjain kenapa? Ia dong Ozi kan sahabat ku”
“O, jadi Ozi sa-ha-bat kamu? Terus yang lain apa?”
“Memang ada yang lain??”
“Ayolah Dia kan baik” Ari mulai melancarkan aksinya
“Ozi.? Sini!! Bagi PR nih ama temen kamu yang super baik ini”
“Ari nya ga mau .. Jawabanku sama ama punya Dia ri. Kita kan ngerjain bareng”
Tak ada jawaban dari Ari dan menarik Ozi untuk mengambil bukunya.
“Nadia, sore ini ya di tunggu “ teriak Ozi
“Ngapain?” Ari bingung
“Pelupa amat sih ri, kan Liga Futsal kita main?”
“Ooo,,” tanpa memperhatiakan lawan biacara dan sibuk menyalin semua jawaban.
Mereka memang senang dengan olahraga Futsal hampir setiap waktu dihabiskan dengan bermain futsal, ya aku berusaha untuk selalu datang dan memberikan semangat untuk mereka karena bagaimanapun juga mereka sudah berjuang untuk membawa nama kelas dan bahkan kadang-kadang nama sekolah ku.
Aku bahkan pernah datang kesebuah sekolah orang untuk sekedar membuat si ngambekan itu mau tanding untuk laga persahabatan. Gelar Ngambekan udah pasti miliknya si Ari, karena ia berjanji akan banyak mencetak gol dan mau main asal aku datang. Ya, sejuta alasan yang dia buat,entah lah yang jelas tak ada rasa keterpaksaan. Tapi aku harus bersiap jadi bahan perhatian anak-anak sekolah yang  ku datangi. Jelas saja karena aku cuma sendirian  diantara kaum adam yang nampak kelelahan bermain futsal ini. Ya  Kali ini janji nya ia penuhi si Ari mencetak 3 gol dan yang lain juga menambahkan. Pertandingan yang seru tapi lebih seru kalau aku tidak jadi bahan perhatian kayaknya.
Pertandingan memang telah berakhir dan ini saatnya aku pulang, tanpa mempedulikan mereka-mereka kaum adam yang kelelahan, tau kenapa? Karena itu akan jadi senjata mereka buat nyuruh-nyuruh. Kamu tau kenapa ku menghindar dengan cepat dari mereka kali ini, bukan hanya masalah suruh menyuruh tapi lebih dari itu, aku menghindar dari si ari takutnya dia geer aku kan bilang ga mau ikut acara mereka sore ini. Dan sudah ku duga setelah beberapa langkah ku beranjak  satu persatu anak-anak perempuan sekolah ini mendekat kearah camp futsal sekolah ku. Ya jadi idol sehari itu kata mereka.
“Nadia!!!”
“Astaga, kenapa bang? Aku mau pulang ini”
“Sorry, Thanks ya”
“Your welcome..Duluan ya”
“Nanti malam ku kerumah “
“Okey..”
Sangat biasa namun ada yang beda kali ini hati ku membaca hal lain, terlalu berharap mungkin entah laa. Kami biasa bertemu dimalam hari  untuk sekedar curhat, tanya jawab pelajaran dan alasan klise bahkan hanya menitipkan sebuah barang tanpa ada teman yang mengetahui selain orang tua ku dan orang tuanya mungkin karena ia pasti memerlukan izin untuk keluar dari rumahnya. Aku masih sibuk dengan komunitasku yang lain, aku masih pula punya jadwal padat berkenaan organisasi.
“Tidak boleh ada yang tau hati ku sekarang, rasa nyaman ini karena kami berteman, hanya itu.” Aku berujar pada hati.
Aku boleh berbangga karena aku perempuan pertama selain anggota keluarganya yang boleh mampir kerumahnya, atau aku boleh sombong karena aku orang pertama yang diberikan dia kesempatan mencoba laptop barunya, atau aku orang pertama yang dikasih tau bahwa dia punya seragam futsal baru. Dan bahkan aku dikasih izin liat koleksi sepatu bola yang digantung dikamarnya. Bunda nya sempat curiga tapi inilah kami hanya teman itu yang mampu kami jawab. Dan Mama ku tentu akan bertanya a,b,c dan d namun dengan semangat menggebu aku berkata hanya teman.
Sampai hatiku betul betul meyakini bahwa ada seruan berbeda, entah dengannya.
“Nadia..”
“kok ngelamun..” tanya dira
“ga apa ra..”
“serius? Eh tadi si ari cariin kamu?”
“hedeh, apa lagi tu anak..”
“Ada apa dengan kalian?”
“Memang harus kenapa-napa baru dia cariin ra? Haha”
“Gak,, kali ini beda serius cerita”
“Ra, hati ku sakit. Hati ku salah”
“Kenapa?”
“Ya, tak ada persahabatan antara laki-laki dan perempuan tanpa resiko cinta karena terbiasa”
“Kalian?”
“Bukan kami tapi aku..”
Aku bercerita awal mula rasa ini ada, ya tak terduga aku bercerita semua cerita yang kami lalui tanpa ada yang mengetahui. Dera mulai berpikir kalau Ari betul memiliki rasa yang lain jug dengan ku. Takut itu satu kata yang terus ada..
Disekolah banyak bisik-bisik dari teman-teman si Ari pacaran dnegan salah seorang adik kelas bernama Risty, Dan Dera menjadi orang pertama yang paling kaget. Aku? Ya harus bagaimana lagi rasa belum betul ku yakini itu harus ku robohkan langsung sekejap. Menghapus rasa sayang berlebih ini menggantinya dengan rasa tulus persahabatan.
“Nadia?” teriak ari
“Apaan ri?”
“Galau nih galau?”
“Ga ada..”
Andai Ari tau rasa ini bersumber dimana apa ia tetap bersikap seperti tadi. Rasa yang terus ku pendam bertahun-tahun sampai akhirnya kami mesti bener benar terpisah.
“Dera?”
“Nadia, kuliah dimana kamu?”
“Seperti keinginan ku..”
“Alhamdulillah, eh si Ari putus ya sama Resty?”
“Hah.. Putus? Tau dimana kamu? Ari jadian ga ngabarin apalagi putus ra.”
“Kata anak-anak tadi..”
“ooh..” Hanya itu yang bisa ku ucapkan tiba-tiba ada yang menyapa
“Nadia..”Sapa seseorang
“Hi, sini. Dera ingat ga sama orang ini?”
“Wih, ka adan? Kakak kelas dulu itu?”
“Nah.. Ka ini sahabat aku. Satu kelas juga ka”
“Hi..” Sapanya ramah
“Aku keluar bentar kedepan sana, nanti telpon kalau mau pulang”
“sip..”
Dera bertanya hubungan ku dengan Ka Adan, Kami tidak pacaran hanya saja lebih dekat dari hubungan pertemanan. Tanpa kami sadari sejak beberapa puluh menit lalu Ari memperhatiakan kearah kami, Ozi dan Rian masih seru berceloteh masa-masa awal kuliah dengan anak-anak yang lain.
Ari menghampiri dan mengajak kami berbincang, kaku itu yang ku rasakan namun kali ini kami dikagetkan dengan suara Ka Adan. Dera yang melihat moment itu langsung bertindak, ia mengajak Ka Adan menunjukan aksinya main Basket karena ia merupakan bintang basket di sekolah. Ka Adan dan Ari berteman cukup akrab karena mereka bertetangga.
Aku dan Ari masih kaku dan terpaku melihat permainan Basket Ka Adan sampai Ari membuka percakapan lagi
“Udah pacaran?”
“Sama  Ka Adan?” tanya ku
“Sapa lagi?”
“Hahaha, mitos ri. Temenan doang.”
Hanya sesederhana itu, entah apa yang dikatakan oleh Dera pada Ka Adan selama bermain basket. Yang jelas ia menunjukan bahwa ia mengetahui rasa yang ada antara kami.
Sampai masanya aku bersedia menerima Ka Adan sebagai penyemangat dan menghapus rasa ku pada Ari meski ku tau ini sangat mustahil dan terbukti berselang beberapa bulan saja kami berpisah.
Kami betul betul telah berbeda sekarang, tidak ada celoteh ria, tidak ada telpon dipagi buta. Tidak ada ucapan selamat malam, dan tidak pernah ada kata perpisahan.
Kami tidak pernah saling mengungkap , kami hanya terbiasa untuk diam dan menutup rapat rasa yang kami miliki.Entah sampai kapan?


TBC ^^ ini sebenarnya diketik ketika masa libur kuliah,inspirasinya si buku JCDD dwitasari :) g maksut ngeplagiat hanya suka aja sama tema beginian . typo udah biasa kan ?? hehe sorry 










Komentar

Postingan Populer